Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Sunday, 23 September 2018

Terapi Cairan

Komposisi air pada tubuh itu berbeda-beda sesuai dengan renang usianya dimana pada bayi prematur akan lebih banyak memiliki kompsisi air (80%) dibandingkan orang dewasa (50-60%).
Dalam tubuh akan terjadi pertukaran cairan antara intrasel dan ekstrasel melalui membran karena hasil perbedaan osmolaritas antara keduanya. Selanjutnya pada ekstrasel akan terjadi pertukaran cairan dari interstitial dan plama (pada vaskular) yang terjadi melalui menembus endotel vaskular dan di atur oleh:
- tekanan onkotik
- tekanan hidrostatik
sesuai dengan hukum starling.
Cairan Vaskular: berfungsi untuk mengantarkan nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh terutama saat resusitasi ini sangat penting untuk diperhatikan.
Cairan interstitial : berfungsi sebagai cadangan, saat cairan di dalam plasma berkurang karena kedianya ada pada kondisi seimbang, cairan interstitial dapat pindah cepat tapi perpindahan cairan dari intrasel ke interstitial tidak adapat berlangsung secara cepat. 

JENIS CAIRAN
1. Kristaloid: NaCl, Ringer, Glukosa 5%
2. Koloid: Gelofusine, Haemaccel, dextran, strach (HES) dan albumin
3. Produk Darah

1 Kristaloid
Cairan kristaloid dpat pindah menembus membran semipermeabel secara bebas, kandungannya adalah air dan elektrolit yang ISOTONIK dengan cairan esktrasel. Hanya 1/3 kritaloid yang akan tinggal di dalam pembuluh darah, sisanya akan masuk ke interstitial.

2 Koloid
Cairan koloid tidak bercampur menjadi larutan sejati dan tidak dapat menembus membran semipermeable. Cenderung bisa menetap di pembuluh darah lebih lama dibandingkan kristaloid. Koloid dapat meningkatakan tekanan osmotik dan menarik carian keluar dari interstitial ke pembuluh darah. Koloid digunakan secara sementara untuk mengganti komponen plasma karena tinggal selama beberapa saat di dalam sirkulasi. Lama koloid bertahan di pembuluh darah tergantung pada:
- berat molekul
- ukuran molekul

PRINSIP DASAR TERAPI CAIRAN INTRAVENA
Prinsip utama terapi cairan adalah menjaga keseimbangan masukan dan keluaran cairan  serta mengantisipasi kemungkinan kehilangan cairan terus berlangsung. Berbagai kondisi memerlukan pembarian kecepatan cairan yang berbeda. Dalam praktik klinis, penggunaan cairan intravena dapat bertujuan untuk: 
1. Resusitasi
2. Rumatan/ maintanance
3. Penggantian dan redistribusi cairan

1 Resusitasi
resusitasi diperlukan jika kehilangan cairan banyak dan memicu kompensasi tubuh. Tujuannya adalah untuk mengembalikan volume intravaskular shg mengembalikan perfusi perifer. Indikator mula resusitasi:
- tekanan darah < 90 mmHg , MAP < 60 mmhg
- CRT < 2 detik
Nadi > 100 x / menit
- Nafas > 20 x / menit
Cairan yang digunakan: Kristaloid dengan kandungan natrium 130-154 mmol/L 500 ml diberikan < 15 menit

2 Rumatan/maintenance
tujuan pemberian rumatan adalah untuk menyediakan kebutuhan cairan dan elektrolit yang tidak terpenuhi melalui oral atau enteral. 
Pemberian Cairan Rumatan:
- kebutuhan cairan rumatan 25 -30 ml/ kgbb/hari
- kebutuhan K, Na, Cl sekitar 1 mml/kgbb/hari
- kebutuhan Glukosa 500-100 g/ hari
- jangan diberi > 30ml/kgbb/hari. Untuk Lansia/ gangguan jantung/ginjal: berikan lebih sedikit misal 35
Jenis Cairan Rumatan: RL, NaCl 0,9%, Glukosa 5%, Glukosa salin

3 Penggantian dan Redistribusi
 diperlukan bila ada defisit air/ elektrolut/ kehilangan cairan ke luar tubuh yg sedang berlangsung (dari traktur urinarius, gastrointestinal) pada pasien luka bakar dan demam dapat mengalami kondisi ini.
Pemilihan jenis cairan yang hilang adalah :
- Kehilangan Plasma: koloid, tranfusi (bila hb < 8g/dL)
- Cairan sktraseluler: kristaloid isotonik
- kehilangan air murni : glukosa 5%
- Overload Cairan 

DEHIDRASI
Pemberian cairan untuk dehidrasi bisa melalui 2 rute:
1. Laruta rehidrasi oral : ORS 8 sdt gula + 1/2 sdt garam dalam 1 liter air
2. Rehidrasi intravena: Kristaloid tanda glukosa/koloid 

Referensi
Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Edisi 4. 2014.



Friday, 18 August 2017

Pompa otot terhadap aliran vena



Ilustrasi gambar diatas menunjukan suatu mekanisme MUSCULOVENOUS PUMP. Yaitu bagaimana proses pompa yang melibatkan muskuloskeletal ekstremitas bawah atau bagian tungkai kaki.
Kita ingat bahwa vena akan mengalirkan darah kembali kejantung dan vena memiliki struktur berupa katup. Fungsi dari katup vena ini adalah untuk mencegah darah kembali turun karena pengaruh dari efek grafitasi yang ada. 

Nah jadi disini kontraksi otot pada ektremitas ternyata akan membantu aliran darah kembali ke jantung. Saat otot berkontraksi maka terjadi pemendekan otot dan peningkatan tekanan pada vena sehingga tekanan ini akan membantu mendorong aliran darah ke arah atas yaitu menuju jantung dan membuat katup vena yang lebih atas terbuka. Vena di atasnyaterbuka dan aliras darah masuk sementara pada  katup vena di letak yang lebih bawah akan menutup dan mencegah adanya aliran balik atau retrograde pada pembuluh vena.

referensi:

       Moore K, Dalley AF, Agur AM. Moore clinically oriented anatomy. 7th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health; 2014.
 

Thursday, 23 March 2017

Hipertensi pada Kehamilan



by: Noni Apreleani S.Ked

Wanita yang Hamil memiliki potensi mengalami berbagai risiko dari Kehamilan. Risiko yang perlu diwaspadai dan cukup sering ditemui adalah Tekanan Darah Tinggi/ Hipertensi. Hipertensi pada kehamilan merupakan kondisi dimana tekanan darah ≥140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak antar pemeriksaan 4-6 jam. Bila ditemukan tekanan darah ≥140/90 mmHg selanjutnya lakukan pemeriksaan Urin (tes celup Urin/ Urin 24 jam untuk mencari adanya protein dalam urin) untuk menentukan Diagnosis. 

Adanya hipertensi pada kehamilan dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya yaitu Hipertensi Gestasional,  Hipertensi Kronik, Pre-Eklamsia & Eklamsia, Hipertensi Kronik dengan Superimposed Pre-eklamsia.


  • Hipertensi Gestasional

Hipertensi Gestasional ditemukan pada wanita yang sebelum hamil memiliki tekanan darah yang normal (normotensi) namun tekanan darah meningkat (Hipertensi) setelah usia kehamilan 20 Minggu tanpa disertai Proteinuria (adanya protein dalam urin) dan menghilang setelah persalinan.

  • Hipertensi Kronik

Hipertensi Kronik merupakan hipertensi tanpa proteinuria pada wanita baik saat sebelum hamil, saat hamil dan setelah persalinan.
Bila ibu sudah mendapatkan obat antihipertensi sebelumnya maka obat dapat dilanjutkan selama kehamilan namun perlu diperhatikan beberapa obat antihipertensi yang dikontraindikasikan untuk ibu hamil seperti ACE inhibitor (misalnya kaptopril), ARB (misalnya valsartan) dan klorotiazid.
Bila ibu belum mendapatkan obat antihipertensi maka dapat diberikan bila tekanan darah ≥160/110 mmHg. Perlu diperhatikan bahwa penurunan tekanan darah pada Hipertensi kronik dapat mengganggu perfusi dan tidak ada bukti adanya normotensi dapat memperbaiki keadaan janin dan ibu.
Selain itu dapat diberikan suplementasi kalsium 1,5-2 gram/ hari dan aspirin 75 mg/ hari mulai pada usia kehamilan 20 Minggu.

  • Pre-Eklamsia

Preeklamsia dapat dibedakan menjadi preeklamsia ringan dan preeklamsia berat.
Preeklamsia ringan ditandai dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg pada usia kehamilan ≥20 Minggu dengan Proteinuria tes celup urin +1 atau Pemeriksaan kuantitatif protein urin >300mg/24 jam.
Preeklamsia berat ditandai dengan tekanan darah ≥160/110 mmHg pada usia kehamilan ≥20 Minggu dengan proteinuria tes celup urin +2 atau pemeriksaan kuantitatif protein urin ≥5 g/24 jam. Dapat disertai keterlibatan organ lain serta tanda preeklamsia berat yaitu sakit kelapa, pandangan kabur dan nyeri ulu hati.

  •  Eklamsia

Eklamsia merupakan kondisi kejang atau koma dengan adanya tanda preeklamsia. Kondisi ini dapat membahayakan bagi ibu dan janin sehingga sebisa mungkin dicegah dengan mengenali dan memberi tatalaksana yang tepat saat ditemukan adanya hipertensi pada kehamilan terutama pada preeklamsia.

  • Hipertensi Kronik dengan Superimposed Pre-eklamsia

Hipertensi Kronik dengan Superimposed Pre-eklamsia adalah ibu dengan adanya riwayat hipertensi kronik (hipertensi pada usia sebelum hamil) disertai dengan adanya proteinuria >+1 pada usia kehamilan >20 minggu.

Referensi:
Moegni EM, Ocviyanti D [editor]. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan: Pedoman bagi tenaga kesehatan. 1st ed. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2013.pp109-15.

Daftar Nomor Rekening PENIPU

 Beberapa kali hampir tertipu dg berbagai modus Online berikut nomor rekeningnya jadi Hati-hati ya BANK BNI A/N : ROBIATUL ADAWIYAH, NO. REK...